Toilet Learning ala Toshi

Warning : cerita dan gambar mungkin mengandung unsur yang tidak membuat nafsu makan.

Pertama-tama syukur alhamdulillah a Toshi udah lulus Toilet learning dan bebas diapers di umur 31 bulan (2 tahun 7 bulan) dan sekarang udah bisa pipis sendiri kalau di rumah. Gak pernah kebayang sebelumnya (sebelum ngerasain sendiri) kalau proses yang semua ibu-ibu lewati ini adalah salah satu yang paling menantang di masa-masa awal balita. Big hug buat semua ibu-ibu yang akan, sedang dan sudah berhasil melalui menjalani proses toilet learning ini.

Karena toilet learning ini, pencapaian yang prosesnya paling lama sejauh ini, jadi wajib diabadikan biar tetep inget dan gak mengulang kesalahan yang sama. Toilet learning Toshi yang lumayan panjang dengan segala ketidaksempurnaan ibunya dan kerjasama Toshi yang luar biasa. Makasih a Toshi udah mau berusaha dan belajar bareng ibu dan ayah sampai akhirnya proses ini terlewati.

Btw, Istilah toilet learning ini lebih cocok buat kita. Kenapa? karena kita gak punya target waktu dan terburu-buru selama proses belajar mengenal toilet dan fungsinya ini. Disesuaikan sama kesiapan anak dan emaknya juga. Kalau anaknya udah siap, tapi emaknya lagi mumet juga jadi kendala (berdasarkan pengalaman pribadi).

Toilet learning Toshi terinspirasi dari montessori ala2 (ala kadarnya) yang berprinsip kita sebagai orang tua cuma suporter dan fasilitator buat anak belajar mengenal toilet sampai akhirnya mandiri, bukan trainer. Karena toilet learning ini juga bagian dari proses pendewasaan. Jangan lupa juga mantranya : “setiap anak berbeda dan unik” dan “semua akan berlalu”.

Selama proses perjalanan toilet learning Toshi sempet beberapa kali berenti dulu karena ibuknya merasa gak sanggup. Misal pas anaknya nolak dan nangis-nangis, sakit atau dalam perjalanan jauh. Saya lebih memilih berhenti sejenak dan refreshing. Daripada dilanjutin dalam keadaan emosi gak stabil mending ditunda demi kewarasan bersama. Jangan sampai toilet learning malah menimbulkan trauma buat anaknya (juga orang tuanya). Awal-awal waktu belajar pup sempet suka maksa ke toilet dan Toshi malah sempet jadi cranky, sejak itu saya lebih menghargai perasaan Toshi juga (anak juga manusia). Sama kaya kita orang dewasa pastinya gak suka cara paksaan mestipun itu atas “dasar demi kebaikan” karena kebaikan yang sesungguhnya itu disampaikan dengan cara yang baik juga.

Berdasarkan pengalaman yang dilalui selama toilet learning Toshi ada beberapa anggapan yang bisa dibilang mitos yang sudah lama beredar dikalangan ibu-ibu jaman dulu. Sejak menyadari itu, ibuk jadi banyak baca-baca artikel tentang proses toilet learning ini dan nyiapin perintilannya. Karena mestipun setiap anak punya dorongan natural tapi buat mulai toilet learning itu memang perlu persiapan dulu sebelumnya (PR emaknya), gak bisa ujug-ujug (tida-tiba) anaknya dibawa ke toilet terus dipaksa mau pup atau pipis disana.

Saran yang beredar : Semakin cepet dimulai toilet learning lebih baik.

Sebelum mulai proses toilet learning, pernah nyoba beberapa saran buat mulai ke toilet sedini mungkin, contohnya saat udah bisa didudukin di toilet mestipun belum bisa jalan. Tapi ternyata ini gak berhasil buat Toshi karena malah drama nangis-nangis. Sejak itu gak dilanjutin lagi karena segala sesuatu yang dimulai dengan pemaksaan, ujungnya bakal bermasalah.

Pelajarannya : Mengenalkan lebih awal tentang toilet dan memulai proses toilet learning saat anak udah mulai tertarik.

Pengenalan proses toilet learning Toshi dimulai waktu umur setahun, mulai sounding, dibacain buku tentang toilet, dan belajar ganti diapers dan cebok di toilet waktu jalannya udah lancar. Tapi toilet learning yang sesungguhnya dimulai waktu pertama kali Toshi bilang “mau ke toilet” (setelah baca buku Potty by Leslie Patricelli) pas umur 18/19 bulan. Awalnya belajar pup dulu.

Kapan waktu terbaik mulai proses toilet learning?

Saat anaknya udah siap. Menurut metode montessori, periode sensitif anak buat memulai toilet training pada saat umur 18 bulan sampai 24 bulan. Biasanya anak udah mulai tertarik sama toilet umur segitu dan lebih mudah mengenalkannya dibandingkan kalau lebih cepet atau lebih lambat. Kalau kurang atau lebih dari umur segitu sebenernya bisa tapi tantangannya akan lebih besar cenah. Wallahualam.

Beberapa tanda awal Toshi waktu mulai toilet learning : bilang mau ke toilet, keliatan gak nyaman kalau pup di diapers karena udah mulai banyak banget juga pupnya, diapersnya sering kering dalam waktu lam, sering gak pipis selama tidur malem, sempet sering kebangun tengah malem atau subuh karena pengen pipis.

Sumber : Buku How to rise an amazing child the montessori way by Tim Seldin

Learning to use the toilet is a natural process that begins when your child’s desire to be grown up and his neurological development have reached the point where he can control his bladder and bowels. We don’t train children to use the toilet, we support them when they are ready.” (How to Raise an Amazing Child: The Montessori way to bring up caring confident children, by Tim Seldin)

Sekitar umur 17/18 bulan Toshi pertama kali bilang mau ke toilet atau nunjukin ketertarikan ke toilet, langsung direspon dan diapresiasi. Awal-awal Toshi mau duduk di toilet itu lama banget dan kadang gak ada hasil.

Kronologi Pengenalan Toilet learning Toshi :

1. Siapkan stok sabar selama proses

Ini hal terpenting sekaligus tersulit selama prosesnya. Masih perlu banyak belajar. Setiap saya emosi dan lepas kontrol, saya selalu minta maaf sama Toshi karena udah emosi atau kesel atau maksa atau marah-marah.

2. Sounding/Hyppnoparenting

Kalau Toshi awalnya selalu dibilangin : “a Toshi udah gede, bukan bayik lagi… kalau mau pup/pipis bilang ibu atau ayah ya, pup/pipisnya di toilet” sama “a Toshi kalau pup/pipisnya selalu di toilet nanti gak udah pake diapers lagi tapi pake undies kaya ibu dan ayah ya”.

3. Kenalan sama Toilet lewat buku

Karena Toshi anaknya suka banget buku, proses toilet learning dimulai dari bacain buku tentang Toilet. Salah satu buku favorit dan pertama yang kita baca yaitu Potty by Leslie Peterseli. Buku ini salah satu best seller di amazon. Isinya simpel banget, cuma gambar dan beberapa kata di setiap halamannya. Tapi magical banget, bikin bayik-bayik tertarik buat nyoba toilet. Setelah Toshi lulus, buku ini dikasih ke sepupunya Toshi dan sepupunya Toshi sekarang udah mulai toilet learning juga dan mulai lepas diapers (sebelum 2 tahun). Ya tiap anak memang beda-beda ada yang lebih cepet dan ada yang lebih lambat juga. Btw, sambil baca buku ini diceritain apa itu toilet? dan kenapa harus ke toilet?.

4. Ngasih contoh ke Toilet

Ini salah satu yang paling penting, children see, children do.

5. Mulai ganti dan bersiin diapers di Toilet

Sejak Toshi udah bisa jalan lancar, mulai rajin ganti dan bersihin diapers di toilet kalau poo. Awalnya pas mudik di rumah, dsiuruh neneknya Toshi dan ternyata itu memang bermanfaat.

6. Siapin toilet seat sesuai ukuran anak

Siapkan toilet seat yang aman, nyaman dan disukai anak (bisa modelnya atau karakternya). Ini satu hal yang penting dan menunjang kenyamanan selama toilet learning. Salah satu kesalahan saya waktu toilet training Toshi adalah salah milih toilet seat yang ternyata licin dan pernah bikin Toshi jatuh dan sempet mogok ke toilet gara-gara itu. Tapi setelah ganti toilet seat yang lebih nyaman, Toshinya bisa naik dan duduk sendiri jadi lebih semangat lagi!

Toilet seat yang bersejarah banget dan mengurangi tingkat stress waktu itu.

7. Bikin Kondisi di Toilet supaya gak bosen

Salah satu trik awal toilet learning Toshi yaitu nempelin stiker-stiker menarik di toilet. Jadi sambil nongkrong nunggu hasil kita ngebahas ada gambar apa, terus sambil dihitung, diceritain ngalor ngidul. Selain itu Toshi seneng banget dibacain buku jadi buat membunuh waktu disiapin juga buku bacaan yang menarik. Sisanya yanyi-nyanyi dan being silly together.

8. Konsistensi

Ini juga hal yang sulit buat saya, secara teori harusnya kalau udah dimulai harus terus konsisten. Ditawarin ke toilet tiap sejam sekali, tapi saya ternyata bukan tipe yang sanggup kaya gitu, jadi lebih mengalir bagaikan air. Belajar pup lebih gampang liat tandanya, mau ngeden. Jadi kalaupun gak bilang bisa diajak langsung ke toilet (kalau gak nolak). Mestipun ada drama juga misal pupnya keras jadi gak mau ke toilet. Belajar pipis lebih sulit ditebak kaya hati wanita. Jadi belajar pipis ini bener-bener nunggu sampe umur 2 tahun dimana Toshi bilang sendiri dan udah ngerasa gak nyaman kalau pipis di diapers. Dimulai dari konsisten diajak pipis debelum tidur dan pas bangun tidur. Jadi gak ada drama pipis di lantai karena selama belajar pipis, karena masih pake diapers. Kalau mau lebih cepet dan konsisten bisa lepas diapers dan ditawarin pipis setengah jam atau sejam sekali. Tapi karena kita tinggal di rantau, serba sendiri jadi memilih cara yang less stress. hehe.

8. Siapin training pants yang yang menarik

Ini salah satu hal yang membantu banget selama proses toilet learningnya Toshi.

Setelah semua ikhtiar, akhirnya tinggal pasrah dan berdoa semoga semuanya segera berlalu. Karena udah terlewati, kadang lupa apa aja yang udah dilalui dan proses detailnya. Padahal pas lagi masanya, tiap hari bilang “I can’t do this anyomore!” 😂 Begitulah semua hal yang ternadi cuma sementara, seberat apapun itu, sesulit apapun itu, mestipun kadang saat itu ngerasa gak sanggup.

Berkenalan lewat Tulisan

Assalamualaikum Wr. Wb…..

Kata orang tak kenal maka tak sayang, kalo menurut saya mah tak kenal maka tak perlu sok kenal atuh :p.

Perlu gak sih memperkenalkan diri? menurut saya mah kadang perlu, kadang gak.

Karena terkadang orang yang ngerasa kenal cenah, padahal mah gak tau apa-apa tentang kita, bisa lebih banyak berkomentar tentang kita.

Kalau komentarnya kurang baik gimana? Anggap aja itu mah karena memang mereka gak tau dan gak kenal kita.

Buat saya mah selama gak merugikan orang lain, lakukanlah apa yang terbaik dan nyaman buat diri sendiri. Karena sebagian orang cuma berkomentar, tanpa berpikir. Jadi daripada riweuh mikirin gimana orang kenal saya (padahal mah kenal juga gak), lebih baik fokus sama hal-hal positif dan orang-orang yang membawa kebaikan dan energi positif buat saya. Karena orang-orang kenal kita lebih banyak bukan dari apa yang kita jelasin, tapi dari sudut pandang dia melihat kita cenah.

Being yourself is the new pretty, don’t let anything steal your joy.

NPI

Sebenernya saya mah bukan orang yang jago merangkai kata-kata, tapi saya suka nulis dan cerita aka curhat sih hehe. Mungkin karena saya termasuk orang yang introvert (mangga gugling sendiri apa itu introvert :D) jadi lebih banyak menuangkan pikiran dan perasaan lewat tulisan. Mestipun nulisnya cuma di dedaunan yang berjatuhan lalu terbawa angin #eaa. Dulu mah waktu jaman masih sekolah sih (jaman baheula) sukanya nulis di buku harian. wkwk. Sejak kuliah pindah ke blog (biar agak keren cenah) dan sekarang berniat nulis lagi tentang pengalaman sejak jadi emak-emak dan merantau di Negeri Sakura cenah.

Motivasi utama saya mah mulai nulis lagi teh yaitu buat mengabadikan cerita perjalanan sejak ada a Toshi di kehidupan saya. Karena sekarang a Toshi adalah dunia saya. Suatu hari mudah-mudahan a Toshi bisa baca blog ini dan mengenang perjalanan kita. I love you a Toshi more than you’ll ever know 🙂

Mudah-mudahan bisa diambil informasi yang baiknya dan dibuang yang kurang baiknya buat yang membaca. Sekian dan terima kasih. 🙂

Yuzawa Kogen Snow Resort (Kids Friendly Snow Resort in Japan)

Assalamualaikum…

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya, Toshi (22 bulan) dan ayahnya juga main salju di Yuzawa Kogen Snow Resort di Yuzawa Town, Niigata Prefecture. Disini ada dua area kids now park yaitu Kogen snowland dan Nunuba Snowland Kogen snowland ada di area bawah jadi gak perlu naik ropeway untuk keatas. Nunuba snowland ada di area atas, jadi butuh naik ropeway untuk ke atas. Btw, ropeway di Yuzawa Kogen ini salah satu ropeway terluas di dunia karena kapasitasnya sampe 167 orang. Jarak dari stasiun sekitar 10 menit jalan kaki. Ada free shuttle bus juga dari Echigo Yuzawa station. Waktu tempuh dari Tokyo station ke Echigo Yuzawa Station sekitar 90 menit by Joetsu shinkansen.

Perjalanan dari Tokyo station sampai Echigo Yuzawa Station seluruhnya dicover sama JR Tokyo Wide Pass. Penjelasan apa itu JR Tokyo Wide Pass udah ditulis di blog post sebelumnya yaa.. silahkan dibacaa 🙂 Pengalaman Menggunakan JR Tokyo Wide Pass (JR Kanto Area Pass) dan Pengalaman JR Tokyo Wide Pass Winter 2019. Jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kita di daerah Tokyo coret hehe. (sekitar 2 jam naik kereta local dan Shinkansen).

Beda sama di daerah Snow Resort kalau di daerah Tokyo atau Chiba setiap musim dingin, cuma kebagian angin dingin tanpa salju hiks. Kalaupun turun salju, paling sekali atau dua kali aja dalam semusim. Jadi kita juga butuh persiapan ekstra buat main ke salju. Karena kalau udah jauh-jauh ke sana, anaknya malah gak menikmati karena kedinginan. Rugi bandar deh hehe.

Berikut beberapa hal yang saya siapin sebelum saya ngajak Toshi ke salju :
  1. Karena niat kali ini ngajak main Toshi, jadi saya kenalin apa itu snow dan winter dulu lewat buku cerita, karena Toshi memang suka banget baca buku. Sejak itu Toshi jadi tertarik banget sama salju dan snowman. Terus saya tanya mau main dan liat salju gak? Jawabannya mauuu 😀
  2. Persiapan outfit. Mulai dari thermal underwear/heattech (ini merk dagang uniqlo) baju daleman atas dan bawahan khusus winter. Soalnya kalau gak pake ini, mestipun pake winter coat atau down jacket bakal tetep kerasa dingin. Jangan lupa juga kaos kaki tebel dan sarung tangan. Jaket winter sebaiknya pake yang tebel sekaligus windbreaker sama waterproof (semacam down jacket gitu bukan fashion coat).
  3. Makanan. Untuk yang muslim sebaiknya sediakan cadangan makanan dari rumah terutama buat anak, karena susah cari makanan halal di snow resort. Alternatifnya sih kalau buat cadangan bawa onigiri, roti, dan cemilan lainnya. Untuk bekal makan Toshi, saya bawa kotak bento thermal (semacam thermos) biar makanannya gak dingin sedingin salju hehe. Kita juga udah siapin makanan halal yang kita beli dan bisa dibawa sebagai bento.
  4. Karena kita bawa anak kurang dari 2 tahun yang butuh bobo siang di perjalanan, jadi kita tetep bawa stroller, mestipun agak ribet karena di shinkansen stroller harus dilipet dan tempat nyimpennya terbatas.

Mau sedikit bercerita tentang pengalaman kita naik Shinkansen waktu liburan tahun baru 2019 di Jepang yang penuh perjuangan. Karena kita berangkat liburan disaat libur nasional. Reserved seat shinkansen ke arah Snow Resort yang kita tuju udah pada penuh setelah kita beli tiket Tokyo Wide pass dan mau booking. Sehingga kita mengandalkan free seat (bisa dapet kursi atau gak). Waktu berangkat dari Tokyo station kita alhamdulillah dapet kursi karena Tokyo station merupakan pemberangkatan pertama. Pulangnya alhamdulillah kita masih dapet reserved seat mestipun malem banget. Pelajaran yang bisa diambil yaitu jangan pergi naik shinkansen mengandalkan free seat saat musim liburan, terutama kalau bawa anak. Btw, perjalanan ke Echigo Yuzawa menggunakan Joetsu Shinkansen dan kita bisa menikmati pengalaman naik shinkansen double decker (Max Tanigawa/ Max Toki). Keren banget memang shinkansen Jepang ini. 😀

Joetsu Shinkansen, Max Tanigawa.

Salju dan sakura merupakan salah satu mimpi masa kecil saya, yang bikin saya pengen banget ke Jepang. Alhamdulillah ini udah salju saya yang kesekian kalinya. Memang semuanya berawal dari mimpi, keyakinan, ikhtiar dan doa :D. Mestipun tinggal di Jepang sekitar 4 tahun, salju masih merupakan barang langka buat kita, karena kita tinggal di daerah Tokyo yang winternya cuma kebagian angin dan dingin. Jadi salju tetep jadi hal yang kita tunggu saat winter (terutama buat saya :D). Snow is freezing cold, but beautiful and magical.

In front of Echigo Yuzawa Station

Salah satu alasan memilih Yuzawa Kogen Snow Resort di Echigo Yuzawa adalah ropeway di Yuzawa Kogen Resort merupakan salah satu ropeway terluas di dunia, yang bisa membawa penumpang sampai 166 orang. Alasan utama sebenernya yaitu Yuzawa Kogen Snow Resort ini family friendly banget, karena Di Yuzawa Kogen Snow Resort ini ada dua area bermain salju untuk anak-anak, yaitu Nunuba Snowland area dan Kogen snowland area. Kalau cuma mau main salju (snow experience) aja di bagian bawah (base area) bisa beli tiket untuk ke Nunuba snowland area aja, tanpa perlu naik ropeway keatas. Bisa hemat waktu dan biaya buat orang tua yang bawa anak masih bayi-bayi.

Sebenernya ada satu lagi snow resort yang paling mudah diakses shinkansen yaitu Gala Yuzawa Snow Resort. Jadi Gala Yuzawa Snow Resort ini langsung ada di dalem station Gala Yuzawa Snow Resort, gak perlu jalan atau naik bis lagi. Tapi karena 3 tahun lalu kita udah pernah ke Gala Yuzawa Snow Resort yang masih satu area sama Yuzawa Kogen Snow Resort ini. Pengalaman waktu ke Gala Yuzawa bisa dibaca di post Gala Yuzawa Snow Resort (Hari kedua JR Tokyo Wide Pass) selain itu dari informasi yang saya dapet, di Yuzawa Kogen lebih banyak fasilitas bermain salju buat anak-anaknya.

One of the largest ropeways in the world at Yuzawa Kogen.

Pengalaman pertama naik ropeway yang luas banget kaya di Yuzawa Kogen Snow Resort ini sangat menyenangkan. Apalagi toshi happy banget juga bisa naik ropeway dan sepanjang jalan ngoceh terus :D. Stroller juga bahkan bisa masuk dan ikut naik ke atas juga. Selama perjalanan di ropeway kita disuguhin breathtaking view Masha Allah. Sesampainya diatas tambah terpesona lagi :D. Buat yang bawa bayi juga gak perlu khawatir karena diatas ada baby room (nursing room) mestipun cuma satu, tapi tempatnya cukup nyaman.


Kogen Snowland can reached by Ropeway at the top of Yuzawa Kogen

Area bermain salju buat anak-anak di bagian atas ini (Kogen Snowland) pemandangan luar biasa. Untuk area sleddingnya disini lebih curam dibandingin sama area sledding yang di bagian bawah (Nunuba snowland). Di Kogen snowland ini ada jungle gym nya juga.


Yuzawa Kogen Snow Park Japan


Pengalaman Hamil dan Melahirkan di Jepang (Part 2)

Assalamualaikum…

Post ini merupakan lanjutan dari post sebelumnya Pengalaman Hamil dan Melahirkan di Jepang (part 1).

Berikutnya saya ingin membahas mengenai sedikit pengalaman yang saat ingat awal-awal hamil di Jepang hingga menuju proses melahirkan. Tapi dikarenakan awal hamil saya lagi pulang kampung dan mengalami proses kehamilan trimester awal di Indonesia, jadi pengalaman kehamilan saya di Jepang dimulai dari trimester 2 yaa :D.

Btw saya bersyukur banget saat trimester awal saya ada di Indonesia karena mual-mual yang saya alami di trimester awal parah banget termasuknya. Selama trimester awal hampir gak bisa masuk makanan apapun, kalaupun bisa masuk pasti muntah lagi. Di trimester awal berat badan saya turun 5 kg. Padahal berat badan awal saya aja udah pas-pasan supaya gak dibilang kurang gizi. Sempet galau banget karena takut bayik di perut kurang asupan nutrisi, tapi bersyukur alhamdulillah banget dikelilingi orang-orang yang penuh support dan berilmu yang bisa menenangkan hati dan pikiran.

source : mypageyourhealth.com

Jadi di trimester awal kehamilan, turun berat badan akibat “morning sickness” itu wajar menurut obgyn saya di Indonesia, di Cianjur, yaitu dokter Futiha Arabia yang cantik dan baik hati. Selama ibu hamil masih bisa minum dan makan sedikit-sedikit apapun makanannya, mestipun beberapa saat kemudian muntah lagi. Selama awal kehamilan saya dikasih suplemen asam folat sama obat untuk mengurangi rasa mual. Asam folat itu penting dan dibutuhkan banget selama trimester awal kehamilan. Untuk fungsi asam folat sendiri maaf gak akan saya jelaskan disini yaa.

Jadi selama proses kehamilan saya di trimester pertama, setiap hari yang saya rasain lemes, sedikit nyium bau-bauan langsung muntah, dimasukin makanan juga munt*h, makan munt*h, gak makan juga munt*h. hehe. Nyium bau asep nasi aja langsung mual banget, nyium bau pewangi, parfum semua yang ada bau-baunya apalagi. Termasuk emosi jadi labil banget. Kalau sekarang inget-inget itu rasanya aneh banget wkwk. Jadi selama hamil trimester pertama alhamdulillah masih ada dikit2 yang bisa masuk kaya buah2an, umbi-umbian (jagung, singkong, ubi), gorengan, buras (semacam lontong kecil). Mestipun seringnya setelah makan disusul munt*h lagi.🤲

Source : Healthyfoodstyle.com

Setelah masuk trimester 2 alhamdulillah mual mulai berkurang dan bisa masuk makanan. Di trimester 2 saya balik lagi ke jepang, dengan perjuangan pas di pesawat mual mual dan munt*h karena nyium bau bauan. Tapi lega bisa sampai dengan selamat. Ahirnya melanjutkan proses kehamilan bareng suami lagi di jepang. Saya ngerasa proses kehamilan lebih nyaman dan tenang saat ada suami, mungkin karena bayik juga ngerasain kehadiran ayahnya.

Setelah sekian lama saya kontrol kehamilan lagi di jepang, di Tokyo Bay Medical Center. Jadwal kontrol selalu udah ditentuin pada kontrol sebelumnya, termasuk hari dan jam kontrol. Setiap sebelum kontrol kartu pasien dimasukan ke dalam mesin dan keluar nomor antrian. Selain itu ditimbang berat badan, cek urine dan ditensi. Lalu kartu pasien, mother book (boshitecho), hasil cetak berat badan dan tensi dikasih ke resepsionis.

Seharusnya di trimester 1 saya menjalani tes darah (tes torch, gula darah dll) yang pertama. Tapi karena di Indonesia gak disuruh, jadinya pas kontrol pertama saya langsung diminta tes darah. Padahal waktu itu masih mual dan pusing pusing. Jadilah disuruh tidur dulu nunggu antrian cek darah dan tetep diambil darahnya mestipun dalam keadaan mau pingsan😣. Hasil tes bisa dilihat pas kontrol selanjutnya. Jadwal kontrol dibtrimester 2 masih sebulan sekali. Karena ada tes darah biaya kontrol bulanan yang biasanya berkisar 1000-3000 yen, sekarang jadi sekitar 13.000 yen kalau gak salah.

Di pertemuan selanjutnya hasil tes dikasih tau, alhamdulillah semuanya baik, kecuali nilai gula darah yang sedikit diatas batas maksimum. Dokternya bilang untuk memastikan hasilnya harus dites darah sekali lagi minggu depan😖 karena bisa jadi kurang valid selama kehamilan. Sejak trimester 2 sampai ahir kehamilan bakal banyak tes-tes yang dijalani, buat mengetahui sedini mungkin kalau ada kelainan atau penyakit selama kehamilan untuk mengusahakan kondisi terbaik saat proses kelahiran. Salah satunya tes pengambilan jaringan buat deteksi dini kanker serviks juga yang lumayan kaya digigit jarum. 😛

Salah satu pengalaman paling berkesan selama kehamilan, yaitu waktu di minggu-minggu terakhir kehamilan posisi anak bayik berubah. Yang harusnya posisi kepala dibawah dan kaki diatas (posisi siap brojol), ini kebalik (aka sungsang kalau bahasa kerennya), karena masih aktif bergerak. Gak heran sampe saat ini anak bayik susyah buat diem. 😀 Tapi saat itu bener-bener bikin deg-degan tiap kali kontrol mingguan dan liat hasil USG nya. Karena kalau sampai minggu ke-35 atau 36, posisi bayik masih sungsang, maka harus ditentuin schedule buat c-section (sesar). Awalnya ada rasa khawatir saat dibilang gitu sama dokter, alasannya karena melahirkan secara sesar itu pemulihannya lebih lama dan butuh ekstra perawatan untuk lukanya selama pemulihan setelah melahirkan. Itu bakal jadi tantangan lebih sulit selama di perantauan, dimana saya, suami dan bayik cuma tinggal bertiga di rumah. Jadi dalam kondisi apapun saya dan suami yang harus ngerjain kerjaan rumah berdua. Sedangkan suami pagi sampai malem kerja. Jadi cuma bisa bantu di rumah saat sebelum berangkat dan pulang kerja plus weekend. Udah ngebayangin rempongnya, padahal semua itu udah diatur Allah, apapun kondisinya, pasti selalu ada jalan terbaik yang udah disiapkan oleh Allah dan selalu ada bantuan Allah in shaa Allah. Pesan ibu saya saat itu, tawakal kepada Allah karena Allah yang tau yang terbaik apapun untuk kita. Sejak itu saya lebih tenang, berdoa dan tetap berikhtiar (senam buat mengubah posisi bayik sungsang) tiap harinya.


Salah satu fakta yang luar biasa tentang melahirkan di Jepang yaitu semua dokter obgyn pro melahirkan secara normal (vaginal delivery), pilihan untuk c-section cuma untuk kasus yang benar-benar emergency dan gak ada pilihan lain. Kata dokter obgyn saya kemungkinannya cuma 2% yang melalui c-section di jepang selama ini (karena kasus kesehatan yang mengancam keselamatan ibu dan bayi). Sasuga japan!!! Itu juga jadi salah satu motivasi saya tetap optimis bisa melahirkan secara normal. Alhamdulillah di minggu terahir dokter ngasih bayik waktu untuk berubah posisi, sebelum dijadwalin buat sesar, bayik sholeh akhirnya berubah posisi ke posisi siap lahir. Masyaa Allah.

Menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL), kontrol kehamilan dilakukan seminggu sekali termasuk melakukan Non-Stress Test (NST) selama kurang lebih 30 menit. NST ini tujuannya untuk mengevaluasi kesehatan bayi sebelum kelahiran. Dari hasil NST ini kita bisa tau tentang suplai oksigen untuk bayi dan kecepatan detak jantung bayi.

Non-Stress Test di minggu-minggu akhir menjelang kelahiran.