Pengalaman Hamil dan Melahirkan di Jepang (Part 1)

Assalamualaikum…

Bulan Maret ini, dua tahun lalu, petualangan sebagai ibuk-ibuk dimulai. Alhamdulillah bahagia dan bersyukur karena bayik tumbuh sehat, tapi juga sedih karena waktu berlalu begitu cepat dua tahun ini. Masa-masa bahagia melihat anak bayik semakin pintar yang dilengkapi dengan drama enak-emak di perantauan :D.

Setelah dua tahun akhirnya niatan nulis tentang pengalaman hamil sama melahirkan bisa mulai dilaksanakan wkwk. Blog post ini ditujukan buat mengenang masa-masa waktu hamil dan melahirkan anak bayik dan berbagi pengalaman. Mudah-mudahan bisa bermanfaat buat yang menyempatkan baca. Blog ini terinspirasi dari salah satu blog pengalaman melahirkan istrinya mas ashlih (temen suami yang kebetulan pernah ketemu di Tokyo) yang gak sengaja dibaca waktu browsing cari info tentang proses melhirkan di Jepang. Ini postnya PENGALAMAN MELAHIRKAN DI JEPANG yang sangat bermanfaat, bagus dan detail banget. Beda sama blog post saya lebih ke curhat emak-emak wkwk.

Pengalaman hamil dan melahirkan pertama di Jepang gak terbayangkan sebelumnya, sampai saya melihat dua garis di test pack kehamilan beberapa hari sebelum rencana mudik lebaran di Indonesia. Alhamdulillah.

Hal pertama yang saya lakukan adalah ngasih tau suami (pastinya). Hal kedua ngasih tau tetangga terdekat dan nanya tempat kontrol kehamilan yang foreigner friendly karena saya gak bisa bahasa jepang dari dulu sampe detik ini. Terima kasih buat mama eza kesayangan yang udah merekomendasikan Sakai Sensei dan Tokyo Bay Medical Center di Urayasu.

Karena ini merupakan pengalaman pertama saya hamil di perantauan yang saya gak tau bahasanya blass. Saya banyak tanya teman-teman yang udah lebih dulu mengalami proses kehamilan dan melahirkan di Jepang, ditambah browsing informasi lainnya dari mbah gugel. Itu ngebantu banget buat persiapan kedepannya baik secara mental maupun finansial. Berikut info pertama yang saya dapat:

Mitos : Melahirkan di Jepang gratis

Fakta : Proses kontrol kehamilan dan melahirkan di Jepang mendapatkan subsidi pemerintah tapi tidak gratis. Kalo ke toilet iya gratis.

Kembali ke laptop, jadi apa aja yang pertama kali harus dilakukan ketika tau positif hamil Jepang berdasarkan pengalaman yang saya ingat (selain yang lupa) kurang lebih seperti ini:

  1. Bersyukur dan berdoa semoga kehamilan diberi kelancaran sampai melahirkan. 🙂
  2. Cari rumah sakit atau klinik terdekat serta dokter obgyn yang dituju untuk kontrol kehamilan. Untuk yang gak bisa bahasa jepang, bisa cari info dokter yang bisa bahasa inggris atau rumah sakit yanga menyediakan jasa penerjemah. Kebetulan sebelum hamil saya pernah menemani teman saya kontrol kehamilannya ke dokter obgyn yang bisa bahasa inggris, jadi pilihan saya kontrol di dokter yang sama yaitu di Tokyo Bay Medical Center Urayasu, sekitar 10 menit jalan kaki dari Urayasu station. Rumah sakit swasta yang termasuk baru dan pelayanannya juga ramah dan menyenangkan mestipun saya gak bisa bahasa jepang.
  3. Daftar ke Rumah Sakit atau Klinik yang dituju dan menyebutkan mau kontrol ke dokter siapa. Sebelum kontrol pertama kali, kita butuh registrasi dan mengisi formulir di bagian administrasi. Jangan lupa siapkan Resident Card, kartu asuransi dan uang. Karena untuk kontrol pertama butuh biaya registrasi dan kontrol kehamilan yang belum disubsidi pemerintah. Biaya registrasi (dulu saya kurang lebih 5000 yen) plus uang kontrol totalnya hampir 10000 yen (sekitar satu juataan) karena belum registrasi kehamilan ke kecamatan (shiyakusho) jadi belum dapat voucher diskon dari pemerintah. Registrasi kehamilan bisa dilakukan setelah kontrol pertama ke dokter obgyn dan dinyatakan hamil.
  4. Mendaftarkan kehamilan ke kantor kecamatan (shiyakusho). Alhamdulillah di shiyakusho dekat apato kita, ada interpreter volunteer yang bisa eigo, jadi kita sangat terbantu selama proses pendaftaran kehamilan. Pendaftaran kehamilan ini sangat penting karena kita akan diberikan panduan kehamilan, informasi berkaitan selama kehamilan sampai melahirkan termasuk biaya yang perlu disiapkan (yang ternyata mahal), buku catatan untuk ibu (boshitecho) dan buku voucher yang isinya voucher diskon yang bisa digunakan selama proses kontrol kehamilan sampai melahirkan. Selain itu ibu hamil dikasih pregnancy badge buat digantung tas, jadi orang lain tau kalau kita hamil, dan biasanya dikasih tempat duduk di kereta kalau kita berdiri :)Hal yang perlu disiapkan sebelum ke shiyakusho adalah Resident card, kartu asuransi dan bukti hasil kontrol kehamilan dari dokter obgyn. Saat proses registrasi, kita akan ditanya kontrol di rumah sakit atau klinik mana, dan dokter siapa. Selama di shiyakusho kami ditanya kesiapan mental dan finalsial (terutama finansial) karena pihak shiyakusho bilang biaya kehamilan dan melahirkan di Jepang bersar, apakah kita punya persiapan uang untuk itu? (secara waktu itu suami masih belum lulus kuliah jadi ngandelin beasiswa). karena kita bingung awalnya maksud pertanyaannya kemana, jadi kita bilang iya aja udah nyiapin :D. Ternyata pertanyaannya menguji seberasa kesiapan finansial kita untuk biaya proses kehamilan dan melahirkan di Jepang yang gak sedikit. Mestipun ada subsidi pemerintah, tetap ada yang harus kita bayar sendiri.
  5. Persiapan biaya selama proses kehamilandan melahirkan. Ternyata biaya melahirkan di Jepang gak sedikit sekitar 500 ribu yen ( 50-60 juta) baik normal maupun sesar. Terus dapat info dari teman saya yang udah melahirkan di Jepang, ada subsidi dari pemerintah sekitar 420 ribu yen. Sisanya baru bayar sendiri. Termasuk setiap kontrol ada voucher diskon, jadi setiap kontrol pada umumnya biaya setelah diskon berkisar 1000-3000 yen (sekitar 100-400 ribu rupiah). Kecuali ada beberapa kali kontrol (2 atau 3 kali saat trimester awal, trimester 2 dan trimester 3) dimana kita dicek darah dan jaringan untuk mendeteksi kalau ada kemungkinan penyakit atau kelainan, sekitar 10000-15000 yen (1 juta sampai 1,5 juta rupiah).
  6. Kontrol kehamilan berkala sampai melhirkan. Di trimester awal (lupa sampai minggu keberapa) kontrol kehamilan dilakukan 1 bulan sekali, kemudian di trimester selanjutnya jadi 2 minggu sekali, dan saat mendekati proses kelahiran jadi seminggu sekali. (maaf saya lupa detailnya minggu keberapa karena udah lama ~.~). Selama proses kontrol kehamilan ada kalanya suami gak bisa nemenin karena gak bisa izin (aktivitas yang gak bisa ditinggal di kampus), jadi kadang saya kontrol sendiri ke dokter naik bis atau kereta. Pada umumnya ibu-ibu hamil di jepang malah hampir semua kontrol sendiri dan yang ditemenin suami atau keluarga jarang banget, gak kaya di Indonesia biasa ada yang nemenin. Jadi mamak-mamak di Jepang memang kudu setrong right from start. hehe
  7. Booking tempat untuk melahirkan. Setelah beberapa kali kontrol biasanya nanti ditanyain rencana melahirkan dimana? Apakah di sini atau di Indonesia?. Kemudian kalau berencana melahirkan di Jepang, harus booking tempat untuk melahirkan. Beda sama di Indonesia yang bisa datang aja lansung daftar sebelum melahirkan. Kalau disini harus registrasi dan booking jauh-jauh hari. Biaya booking ini berbeda-beda bergantung rumah sakit atau kliniknya. Berdasarkan pengalaman saya waktu lahiran, biaya booking di Tokyo Bay Medical Center tahun 2017 yaitu 100 ribu yen (kurang lebih 13 juta rupiah).

(bersambung)