Sahabat itu bagaikan bintang

Sejak masih kecil kita udah bisa merasakan kalau berteman itu menyenangkan. Kenapa yaa? Karena kita bisa berbagi. Berbagi cerita, canda, tawa dan tangis bersama.

Di setiap perjalanan selalu ada sahabat yang jadi bagian penting dari perjalanan hidup kita. Sahabat yang mengingatkan pada berbagai kenangan awal perjalanan itu dimulai. Sahabat yang mengukir banyak memori di hati kita dan membawa kebaikan buat kita.

Being yourself is the new pretty

Konon katanya Tokyo adalah mekahnya orang yang hobi belanja make up sama skincare, mulai dari high end sampai low end make up ada dimana-mana kaya kacang goreng. Mestipun begitu, ternyata gak ngerubah saya jadi rajin skinkeran biar muka mengkilat dan putih kaya porcelain.

Ya setiap orang punya ketertarikan dan pemikiran yang berbeda-beda. Ada yang suka perawatan dengan merawat fisik. Tapi ada juga yang lebih suka perawatan dengan merawat yang non fisik. Gak ada yang lebih baik, semuanya baik-baik aja, asal kita senang dan melakukannya buat diri kita sendiri.

Kalau liat orang punya kulit bersih dan cantik, pasti pengen juga. Tapi ternyata gak cukup memotivasi buat jadi rajin pake skin care atau make up. Selain karena malesan dan lupaan masalah kaya gitu, dari kecil juga diajarin kalau penampilan fisik itu bukan segalanya, yang terpenting hatinya. Selain itu juga dulu sebelum nikah gaulnya sama temen-temen cowo terus jadi seringnya ngerasa paling cantik sendiri (no matter what😂). Sekarang juga begitu, di rumah ngerasa paling cantik sendiri karena cewe sendiri😂. Emang orangnya lebih pede kalau apa adanya, kalau terlalu cemerlang nanti takut banyak yang minta tandatangan. 😝

Salah satu hal yang bikin risih adalah momen yang mengharuskan dandan habis-habisan kaya pas nikahan dan wisuda. Kenapa sih kita gak bisa jadi diri sendiri aja? Ya namanya juga di dunia terkadang kita dipaksa untuk mengikuti apa yang dianggap orang-orang wajar. Mestipun sebenarnya itu bukan kebenaran.

Terkdang kita diminta buat jadi diri sendiri tapi secara sosial kita dipaksa buat gak jadi diri sendiri. Termasuk dalam pendidikan di sekolah. Banyak anak dipaksa buat belajar dan melakukan apa yang gak mereka sukai jadinya males dan gak mau belajar. Sesuatu yang dipaksa seragam itu padahal belum tentu baik dan benar.

Tapi memang perlu motivasi untuk melakukan apapun, salah satunya nulis. Mestipun tulisannya masih acak-acakan karena ngejar deadline nulis setiap hari dari Kelas Literasi Ibu Profesional. Tapi nulis itu emang menyenangkan. Menuangkan apa yang ada di pikiran yang seringnya gak bisa diungkapkan secara langsung.

Wisata Anak dan Halal di Ueno Tokyo

Ueno adalah salah satu daerah favorit kita buat jalan-jalan di daerah Tokyo. Tanya kenapa? Karena disini ada Ueno zoo! Favoritnya Toshi banget. Iyaa, Toshi selalu jadi kompas kebahagiaan kita #eaa. Selain Ueno zoo ada juga Swan Boat di Shinobazu Pond, National Science Museum (dan banyak lagi museum2 lainnya), International Library of Children Literature dan Ueno Park yang luas dan indah banget saat musim sakura dan musim gugur. Buat yang suka ngafe, ada starbucks dan hard rock cafe juga di deket stasiun Ueno. Sedangkan buat yang lebih suka coklat ada Godiva (favorit banget) juga.

Cherry Blossoms at Ueno Park

Buat muslim traveler Ueno ini memang nyaman banget buat jalan-jalan karena tersedia banyak makanan halal dan deket sama mesjid As-Salam. Anak senang, perut kenyang. Selain buat wisata anak dan kuliner halal, di Ueno juga banyak tempat perbelanjaan mulai pasar tradisional Jepang dan juga shopping mall yang cocok buat nyari souvenir.

Top favorit tempat yang dikunjungi :

1. Ueno Zoological Park

Ueno Zoo ini merupakan salah satu zoo terbesar di daerah Tokyo yang lokasinya strategis banget. Kunjungan kita ke tempat ini udah gak terhitung, sampe akhirnya kita memutuskan beli annual ticket. Harga annual ticket ini 4x harga one day ticket nya. Jadi gak rugi banget kalau bakal sering berkunjung ke Ueno zoo ini.

2. Tokyo National Science Museum Ueno

Sebagai orang yang gak gemar ke museum, museum science ini cukup menarik hati dan menghibur. Seru banget buat belajar sains sama anak-anak.

3. International Library of Children Literature

Buat yang gak terlalu suka keramaian kaya saya, tempat ini cocok banget karena gak terlalu banyak pengunjung, lebih tepatnya sepi. Mestipun bukunya hampir semua bahasa Jepang, tapi tetap bisa menikmati.

4. Ueno Park

Salah satu taman populer di Tokyo di berbagai musim.

5. Shinobazu Pond

Pas sakuranya mekar kece banget pemandangannya. Seru banget naik swan boat dikelilingin pohon sakura.

6. Ameyokocho Dori

Buat yang suka kuliner, tempat ini surga banget. Buat muslim juga banyak makanan halal yang bisa dicicip.

7. Taman Bermain dekat Mesjid As-Salam Okachimachi

Taman kecil disebelah mesjid Okachimachi.

Top Favorit Makanan Halal di Ueno

1. Halal Wagyu Issho Ueno

Halal Wagyu Issho ini salah satu resto halal yang baru-baru ini kita kunjungin dan puas banget sama makanan dan tempatnya. Ruangannya resto khas Jepang yang privat ada pintunya jadi nyaman banget buat didatengin bareng kekuarga atau temen-temen. Range harganya beragam mulai dari 580 sampai 3800 yen. Menu dibawah ini simmered beef with tofu harganya 580 (belum termasuk pajak) dan rasanya enak buat yang suka manis. Selain itu kita pesen Motsunabe harganya sekitar 1580 yen (belum termasuk pajak) enak juga. Kalau mau pesan Motsunabe ini minimal 2 porsi setiap pemesanan.

2. Chicken Man, Ameyokocho.

3. Kebab Aslan, Ameyokocho.

4. Ramen Halal Ayam-Ya, Okachimachi.

Mesjid As-Salam Okachimachi

Toilet Learning ala Toshi

Warning : cerita dan gambar mungkin mengandung unsur yang tidak membuat nafsu makan.

Pertama-tama syukur alhamdulillah a Toshi udah lulus Toilet learning dan bebas diapers di umur 31 bulan (2 tahun 7 bulan) dan sekarang udah bisa pipis sendiri kalau di rumah. Gak pernah kebayang sebelumnya (sebelum ngerasain sendiri) kalau proses yang semua ibu-ibu lewati ini adalah salah satu yang paling menantang di masa-masa awal balita. Big hug buat semua ibu-ibu yang akan, sedang dan sudah berhasil melalui menjalani proses toilet learning ini.

Karena toilet learning ini, pencapaian yang prosesnya paling lama sejauh ini, jadi wajib diabadikan biar tetep inget dan gak mengulang kesalahan yang sama. Toilet learning Toshi yang lumayan panjang dengan segala ketidaksempurnaan ibunya dan kerjasama Toshi yang luar biasa. Makasih a Toshi udah mau berusaha dan belajar bareng ibu dan ayah sampai akhirnya proses ini terlewati.

Btw, Istilah toilet learning ini lebih cocok buat kita. Kenapa? karena kita gak punya target waktu dan terburu-buru selama proses belajar mengenal toilet dan fungsinya ini. Disesuaikan sama kesiapan anak dan emaknya juga. Kalau anaknya udah siap, tapi emaknya lagi mumet juga jadi kendala (berdasarkan pengalaman pribadi).

Toilet learning Toshi terinspirasi dari montessori ala2 (ala kadarnya) yang berprinsip kita sebagai orang tua cuma suporter dan fasilitator buat anak belajar mengenal toilet sampai akhirnya mandiri, bukan trainer. Karena toilet learning ini juga bagian dari proses pendewasaan. Jangan lupa juga mantranya : “setiap anak berbeda dan unik” dan “semua akan berlalu”.

Selama proses perjalanan toilet learning Toshi sempet beberapa kali berenti dulu karena ibuknya merasa gak sanggup. Misal pas anaknya nolak dan nangis-nangis, sakit atau dalam perjalanan jauh. Saya lebih memilih berhenti sejenak dan refreshing. Daripada dilanjutin dalam keadaan emosi gak stabil mending ditunda demi kewarasan bersama. Jangan sampai toilet learning malah menimbulkan trauma buat anaknya (juga orang tuanya). Awal-awal waktu belajar pup sempet suka maksa ke toilet dan Toshi malah sempet jadi cranky, sejak itu saya lebih menghargai perasaan Toshi juga (anak juga manusia). Sama kaya kita orang dewasa pastinya gak suka cara paksaan mestipun itu atas “dasar demi kebaikan” karena kebaikan yang sesungguhnya itu disampaikan dengan cara yang baik juga.

Berdasarkan pengalaman yang dilalui selama toilet learning Toshi ada beberapa anggapan yang bisa dibilang mitos yang sudah lama beredar dikalangan ibu-ibu jaman dulu. Sejak menyadari itu, ibuk jadi banyak baca-baca artikel tentang proses toilet learning ini dan nyiapin perintilannya. Karena mestipun setiap anak punya dorongan natural tapi buat mulai toilet learning itu memang perlu persiapan dulu sebelumnya (PR emaknya), gak bisa ujug-ujug (tida-tiba) anaknya dibawa ke toilet terus dipaksa mau pup atau pipis disana.

Saran yang beredar : Semakin cepet dimulai toilet learning lebih baik.

Sebelum mulai proses toilet learning, pernah nyoba beberapa saran buat mulai ke toilet sedini mungkin, contohnya saat udah bisa didudukin di toilet mestipun belum bisa jalan. Tapi ternyata ini gak berhasil buat Toshi karena malah drama nangis-nangis. Sejak itu gak dilanjutin lagi karena segala sesuatu yang dimulai dengan pemaksaan, ujungnya bakal bermasalah.

Pelajarannya : Mengenalkan lebih awal tentang toilet dan memulai proses toilet learning saat anak udah mulai tertarik.

Pengenalan proses toilet learning Toshi dimulai waktu umur setahun, mulai sounding, dibacain buku tentang toilet, dan belajar ganti diapers dan cebok di toilet waktu jalannya udah lancar. Tapi toilet learning yang sesungguhnya dimulai waktu pertama kali Toshi bilang “mau ke toilet” (setelah baca buku Potty by Leslie Patricelli) pas umur 18/19 bulan. Awalnya belajar pup dulu.

Kapan waktu terbaik mulai proses toilet learning?

Saat anaknya udah siap. Menurut metode montessori, periode sensitif anak buat memulai toilet training pada saat umur 18 bulan sampai 24 bulan. Biasanya anak udah mulai tertarik sama toilet umur segitu dan lebih mudah mengenalkannya dibandingkan kalau lebih cepet atau lebih lambat. Kalau kurang atau lebih dari umur segitu sebenernya bisa tapi tantangannya akan lebih besar cenah. Wallahualam.

Beberapa tanda awal Toshi waktu mulai toilet learning : bilang mau ke toilet, keliatan gak nyaman kalau pup di diapers karena udah mulai banyak banget juga pupnya, diapersnya sering kering dalam waktu lam, sering gak pipis selama tidur malem, sempet sering kebangun tengah malem atau subuh karena pengen pipis.

Sumber : Buku How to rise an amazing child the montessori way by Tim Seldin

Learning to use the toilet is a natural process that begins when your child’s desire to be grown up and his neurological development have reached the point where he can control his bladder and bowels. We don’t train children to use the toilet, we support them when they are ready.” (How to Raise an Amazing Child: The Montessori way to bring up caring confident children, by Tim Seldin)

Sekitar umur 17/18 bulan Toshi pertama kali bilang mau ke toilet atau nunjukin ketertarikan ke toilet, langsung direspon dan diapresiasi. Awal-awal Toshi mau duduk di toilet itu lama banget dan kadang gak ada hasil.

Kronologi Pengenalan Toilet learning Toshi :

1. Siapkan stok sabar selama proses

Ini hal terpenting sekaligus tersulit selama prosesnya. Masih perlu banyak belajar. Setiap saya emosi dan lepas kontrol, saya selalu minta maaf sama Toshi karena udah emosi atau kesel atau maksa atau marah-marah.

2. Sounding/Hyppnoparenting

Kalau Toshi awalnya selalu dibilangin : “a Toshi udah gede, bukan bayik lagi… kalau mau pup/pipis bilang ibu atau ayah ya, pup/pipisnya di toilet” sama “a Toshi kalau pup/pipisnya selalu di toilet nanti gak udah pake diapers lagi tapi pake undies kaya ibu dan ayah ya”.

3. Kenalan sama Toilet lewat buku

Karena Toshi anaknya suka banget buku, proses toilet learning dimulai dari bacain buku tentang Toilet. Salah satu buku favorit dan pertama yang kita baca yaitu Potty by Leslie Peterseli. Buku ini salah satu best seller di amazon. Isinya simpel banget, cuma gambar dan beberapa kata di setiap halamannya. Tapi magical banget, bikin bayik-bayik tertarik buat nyoba toilet. Setelah Toshi lulus, buku ini dikasih ke sepupunya Toshi dan sepupunya Toshi sekarang udah mulai toilet learning juga dan mulai lepas diapers (sebelum 2 tahun). Ya tiap anak memang beda-beda ada yang lebih cepet dan ada yang lebih lambat juga. Btw, sambil baca buku ini diceritain apa itu toilet? dan kenapa harus ke toilet?.

4. Ngasih contoh ke Toilet

Ini salah satu yang paling penting, children see, children do.

5. Mulai ganti dan bersiin diapers di Toilet

Sejak Toshi udah bisa jalan lancar, mulai rajin ganti dan bersihin diapers di toilet kalau poo. Awalnya pas mudik di rumah, dsiuruh neneknya Toshi dan ternyata itu memang bermanfaat.

6. Siapin toilet seat sesuai ukuran anak

Siapkan toilet seat yang aman, nyaman dan disukai anak (bisa modelnya atau karakternya). Ini satu hal yang penting dan menunjang kenyamanan selama toilet learning. Salah satu kesalahan saya waktu toilet training Toshi adalah salah milih toilet seat yang ternyata licin dan pernah bikin Toshi jatuh dan sempet mogok ke toilet gara-gara itu. Tapi setelah ganti toilet seat yang lebih nyaman, Toshinya bisa naik dan duduk sendiri jadi lebih semangat lagi!

Toilet seat yang bersejarah banget dan mengurangi tingkat stress waktu itu.

7. Bikin Kondisi di Toilet supaya gak bosen

Salah satu trik awal toilet learning Toshi yaitu nempelin stiker-stiker menarik di toilet. Jadi sambil nongkrong nunggu hasil kita ngebahas ada gambar apa, terus sambil dihitung, diceritain ngalor ngidul. Selain itu Toshi seneng banget dibacain buku jadi buat membunuh waktu disiapin juga buku bacaan yang menarik. Sisanya yanyi-nyanyi dan being silly together.

8. Konsistensi

Ini juga hal yang sulit buat saya, secara teori harusnya kalau udah dimulai harus terus konsisten. Ditawarin ke toilet tiap sejam sekali, tapi saya ternyata bukan tipe yang sanggup kaya gitu, jadi lebih mengalir bagaikan air. Belajar pup lebih gampang liat tandanya, mau ngeden. Jadi kalaupun gak bilang bisa diajak langsung ke toilet (kalau gak nolak). Mestipun ada drama juga misal pupnya keras jadi gak mau ke toilet. Belajar pipis lebih sulit ditebak kaya hati wanita. Jadi belajar pipis ini bener-bener nunggu sampe umur 2 tahun dimana Toshi bilang sendiri dan udah ngerasa gak nyaman kalau pipis di diapers. Dimulai dari konsisten diajak pipis debelum tidur dan pas bangun tidur. Jadi gak ada drama pipis di lantai karena selama belajar pipis, karena masih pake diapers. Kalau mau lebih cepet dan konsisten bisa lepas diapers dan ditawarin pipis setengah jam atau sejam sekali. Tapi karena kita tinggal di rantau, serba sendiri jadi memilih cara yang less stress. hehe.

8. Siapin training pants yang yang menarik

Ini salah satu hal yang membantu banget selama proses toilet learningnya Toshi.

Setelah semua ikhtiar, akhirnya tinggal pasrah dan berdoa semoga semuanya segera berlalu. Karena udah terlewati, kadang lupa apa aja yang udah dilalui dan proses detailnya. Padahal pas lagi masanya, tiap hari bilang “I can’t do this anyomore!” 😂 Begitulah semua hal yang ternadi cuma sementara, seberat apapun itu, sesulit apapun itu, mestipun kadang saat itu ngerasa gak sanggup.