Toilet Learning ala Toshi

Warning : cerita dan gambar mungkin mengandung unsur yang tidak membuat nafsu makan.

Pertama-tama syukur alhamdulillah a Toshi udah lulus Toilet learning dan bebas diapers di umur 31 bulan (2 tahun 7 bulan) dan sekarang udah bisa pipis sendiri kalau di rumah. Gak pernah kebayang sebelumnya (sebelum ngerasain sendiri) kalau proses yang semua ibu-ibu lewati ini adalah salah satu yang paling menantang di masa-masa awal balita. Big hug buat semua ibu-ibu yang akan, sedang dan sudah berhasil melalui menjalani proses toilet learning ini.

Karena toilet learning ini, pencapaian yang prosesnya paling lama sejauh ini, jadi wajib diabadikan biar tetep inget dan gak mengulang kesalahan yang sama. Toilet learning Toshi yang lumayan panjang dengan segala ketidaksempurnaan ibunya dan kerjasama Toshi yang luar biasa. Makasih a Toshi udah mau berusaha dan belajar bareng ibu dan ayah sampai akhirnya proses ini terlewati.

Btw, Istilah toilet learning ini lebih cocok buat kita. Kenapa? karena kita gak punya target waktu dan terburu-buru selama proses belajar mengenal toilet dan fungsinya ini. Disesuaikan sama kesiapan anak dan emaknya juga. Kalau anaknya udah siap, tapi emaknya lagi mumet juga jadi kendala (berdasarkan pengalaman pribadi).

Toilet learning Toshi terinspirasi dari montessori ala2 (ala kadarnya) yang berprinsip kita sebagai orang tua cuma suporter dan fasilitator buat anak belajar mengenal toilet sampai akhirnya mandiri, bukan trainer. Karena toilet learning ini juga bagian dari proses pendewasaan. Jangan lupa juga mantranya : “setiap anak berbeda dan unik” dan “semua akan berlalu”.

Selama proses perjalanan toilet learning Toshi sempet beberapa kali berenti dulu karena ibuknya merasa gak sanggup. Misal pas anaknya nolak dan nangis-nangis, sakit atau dalam perjalanan jauh. Saya lebih memilih berhenti sejenak dan refreshing. Daripada dilanjutin dalam keadaan emosi gak stabil mending ditunda demi kewarasan bersama. Jangan sampai toilet learning malah menimbulkan trauma buat anaknya (juga orang tuanya). Awal-awal waktu belajar pup sempet suka maksa ke toilet dan Toshi malah sempet jadi cranky, sejak itu saya lebih menghargai perasaan Toshi juga (anak juga manusia). Sama kaya kita orang dewasa pastinya gak suka cara paksaan mestipun itu atas “dasar demi kebaikan” karena kebaikan yang sesungguhnya itu disampaikan dengan cara yang baik juga.

Berdasarkan pengalaman yang dilalui selama toilet learning Toshi ada beberapa anggapan yang bisa dibilang mitos yang sudah lama beredar dikalangan ibu-ibu jaman dulu. Sejak menyadari itu, ibuk jadi banyak baca-baca artikel tentang proses toilet learning ini dan nyiapin perintilannya. Karena mestipun setiap anak punya dorongan natural tapi buat mulai toilet learning itu memang perlu persiapan dulu sebelumnya (PR emaknya), gak bisa ujug-ujug (tida-tiba) anaknya dibawa ke toilet terus dipaksa mau pup atau pipis disana.

Saran yang beredar : Semakin cepet dimulai toilet learning lebih baik.

Sebelum mulai proses toilet learning, pernah nyoba beberapa saran buat mulai ke toilet sedini mungkin, contohnya saat udah bisa didudukin di toilet mestipun belum bisa jalan. Tapi ternyata ini gak berhasil buat Toshi karena malah drama nangis-nangis. Sejak itu gak dilanjutin lagi karena segala sesuatu yang dimulai dengan pemaksaan, ujungnya bakal bermasalah.

Pelajarannya : Mengenalkan lebih awal tentang toilet dan memulai proses toilet learning saat anak udah mulai tertarik.

Pengenalan proses toilet learning Toshi dimulai waktu umur setahun, mulai sounding, dibacain buku tentang toilet, dan belajar ganti diapers dan cebok di toilet waktu jalannya udah lancar. Tapi toilet learning yang sesungguhnya dimulai waktu pertama kali Toshi bilang “mau ke toilet” (setelah baca buku Potty by Leslie Patricelli) pas umur 18/19 bulan. Awalnya belajar pup dulu.

Kapan waktu terbaik mulai proses toilet learning?

Saat anaknya udah siap. Menurut metode montessori, periode sensitif anak buat memulai toilet training pada saat umur 18 bulan sampai 24 bulan. Biasanya anak udah mulai tertarik sama toilet umur segitu dan lebih mudah mengenalkannya dibandingkan kalau lebih cepet atau lebih lambat. Kalau kurang atau lebih dari umur segitu sebenernya bisa tapi tantangannya akan lebih besar cenah. Wallahualam.

Beberapa tanda awal Toshi waktu mulai toilet learning : bilang mau ke toilet, keliatan gak nyaman kalau pup di diapers karena udah mulai banyak banget juga pupnya, diapersnya sering kering dalam waktu lam, sering gak pipis selama tidur malem, sempet sering kebangun tengah malem atau subuh karena pengen pipis.

Sumber : Buku How to rise an amazing child the montessori way by Tim Seldin

Learning to use the toilet is a natural process that begins when your child’s desire to be grown up and his neurological development have reached the point where he can control his bladder and bowels. We don’t train children to use the toilet, we support them when they are ready.” (How to Raise an Amazing Child: The Montessori way to bring up caring confident children, by Tim Seldin)

Sekitar umur 17/18 bulan Toshi pertama kali bilang mau ke toilet atau nunjukin ketertarikan ke toilet, langsung direspon dan diapresiasi. Awal-awal Toshi mau duduk di toilet itu lama banget dan kadang gak ada hasil.

Kronologi Pengenalan Toilet learning Toshi :

1. Siapkan stok sabar selama proses

Ini hal terpenting sekaligus tersulit selama prosesnya. Masih perlu banyak belajar. Setiap saya emosi dan lepas kontrol, saya selalu minta maaf sama Toshi karena udah emosi atau kesel atau maksa atau marah-marah.

2. Sounding/Hyppnoparenting

Kalau Toshi awalnya selalu dibilangin : “a Toshi udah gede, bukan bayik lagi… kalau mau pup/pipis bilang ibu atau ayah ya, pup/pipisnya di toilet” sama “a Toshi kalau pup/pipisnya selalu di toilet nanti gak udah pake diapers lagi tapi pake undies kaya ibu dan ayah ya”.

3. Kenalan sama Toilet lewat buku

Karena Toshi anaknya suka banget buku, proses toilet learning dimulai dari bacain buku tentang Toilet. Salah satu buku favorit dan pertama yang kita baca yaitu Potty by Leslie Peterseli. Buku ini salah satu best seller di amazon. Isinya simpel banget, cuma gambar dan beberapa kata di setiap halamannya. Tapi magical banget, bikin bayik-bayik tertarik buat nyoba toilet. Setelah Toshi lulus, buku ini dikasih ke sepupunya Toshi dan sepupunya Toshi sekarang udah mulai toilet learning juga dan mulai lepas diapers (sebelum 2 tahun). Ya tiap anak memang beda-beda ada yang lebih cepet dan ada yang lebih lambat juga. Btw, sambil baca buku ini diceritain apa itu toilet? dan kenapa harus ke toilet?.

4. Ngasih contoh ke Toilet

Ini salah satu yang paling penting, children see, children do.

5. Mulai ganti dan bersiin diapers di Toilet

Sejak Toshi udah bisa jalan lancar, mulai rajin ganti dan bersihin diapers di toilet kalau poo. Awalnya pas mudik di rumah, dsiuruh neneknya Toshi dan ternyata itu memang bermanfaat.

6. Siapin toilet seat sesuai ukuran anak

Siapkan toilet seat yang aman, nyaman dan disukai anak (bisa modelnya atau karakternya). Ini satu hal yang penting dan menunjang kenyamanan selama toilet learning. Salah satu kesalahan saya waktu toilet training Toshi adalah salah milih toilet seat yang ternyata licin dan pernah bikin Toshi jatuh dan sempet mogok ke toilet gara-gara itu. Tapi setelah ganti toilet seat yang lebih nyaman, Toshinya bisa naik dan duduk sendiri jadi lebih semangat lagi!

Toilet seat yang bersejarah banget dan mengurangi tingkat stress waktu itu.

7. Bikin Kondisi di Toilet supaya gak bosen

Salah satu trik awal toilet learning Toshi yaitu nempelin stiker-stiker menarik di toilet. Jadi sambil nongkrong nunggu hasil kita ngebahas ada gambar apa, terus sambil dihitung, diceritain ngalor ngidul. Selain itu Toshi seneng banget dibacain buku jadi buat membunuh waktu disiapin juga buku bacaan yang menarik. Sisanya yanyi-nyanyi dan being silly together.

8. Konsistensi

Ini juga hal yang sulit buat saya, secara teori harusnya kalau udah dimulai harus terus konsisten. Ditawarin ke toilet tiap sejam sekali, tapi saya ternyata bukan tipe yang sanggup kaya gitu, jadi lebih mengalir bagaikan air. Belajar pup lebih gampang liat tandanya, mau ngeden. Jadi kalaupun gak bilang bisa diajak langsung ke toilet (kalau gak nolak). Mestipun ada drama juga misal pupnya keras jadi gak mau ke toilet. Belajar pipis lebih sulit ditebak kaya hati wanita. Jadi belajar pipis ini bener-bener nunggu sampe umur 2 tahun dimana Toshi bilang sendiri dan udah ngerasa gak nyaman kalau pipis di diapers. Dimulai dari konsisten diajak pipis debelum tidur dan pas bangun tidur. Jadi gak ada drama pipis di lantai karena selama belajar pipis, karena masih pake diapers. Kalau mau lebih cepet dan konsisten bisa lepas diapers dan ditawarin pipis setengah jam atau sejam sekali. Tapi karena kita tinggal di rantau, serba sendiri jadi memilih cara yang less stress. hehe.

8. Siapin training pants yang yang menarik

Ini salah satu hal yang membantu banget selama proses toilet learningnya Toshi.

Setelah semua ikhtiar, akhirnya tinggal pasrah dan berdoa semoga semuanya segera berlalu. Karena udah terlewati, kadang lupa apa aja yang udah dilalui dan proses detailnya. Padahal pas lagi masanya, tiap hari bilang “I can’t do this anyomore!” 😂 Begitulah semua hal yang ternadi cuma sementara, seberat apapun itu, sesulit apapun itu, mestipun kadang saat itu ngerasa gak sanggup.

Catatan Hati Seorang Ibu di Rantau

He’s the one that keeps me on my toes and I wouldn’t have it any other way.

Time flies!

Let me love you a little more before you’re not so little anymore

Selama 2 tahun lebih, hampir gak pernah sendiri (fisik dan pikiran), selalu ada yang menemani (AKA ngintilin) kemanapun pergi. Sekalipun itu ke Toilet! Semua ibu yang pernah melalui kondisi yang sama pasti tau rasanya gimana. Antara seneng punya privilege sebagai seorang ibu tapi ada saatnya rasanya pengen lari ke hutan dan pecahkan saja gelasnya. wkwk

Motherhood is the hardest and most rewarding job in the world.

Pengalaman pertama jadi seorang ibu gak akan terganti dengan apapun. I love watching you grow up yet it’s bittersweet. Tiap ngeliat Toshi semakin mandiri, bisa banyak hal, tumbuh sehat dan sempurna, ada rasa bersyukur, bangga, seneng tapi juga sedih. Sedih karena bayi kecil yang dulu selalu nempel dan bergantung banget sama ibunya, sekarang perlahan-lahan mulai mandiri mestipun saat ini masih banyak butuh bantuan ibunya. Sedikit-sedikit ibuuu.. ibuu.. tapi panggilan itu yang paling ditunggu tiap harinya💕. Mestipun kadang kalau lagi lelah, ngantuk dan laper, ibu juga bisa jadi overreact karena diintilin terus. Pernah nanya “a toshi kan bisa sendiri, kenapa harus sama ibu? jawabannya “karena a toshi seneng kalau sama ibu”. Langsung merasa bersalah kadang suka kesel, padahal di hati anak perhatian ibu itu segalanya. Maaf ya nak hiks. Jadi orang tua memang proses belajar seumur hidup. Hampir semua ibu-ibu pasti mungkin pernah ngerasain ada di posisi itu dan ngerti banget tanpa dijelasin panjang kali lebar. Seperti kata om John Medina dibukunya Brain Rules for Baby.

Having a first child is like swallowing intoxinating drink made of equal parts joy and terror, chased with a bucketful of transitions nobody ever tells you about. (John Medina)

Sejak ada Toshi, saya ngerti kenapa ada ibu-ibu yang yang suka gak fokus kalau lagi jalan dan tetep kalem mestipun anaknya mancing kerusuhan :p. Termasuk bisa ngerti kenapa ibu-ibu tiba-tiba berubah kehidupannya sejak jatuh cinta sama bayik kecil yang digendongnya buat pertama kali! suddenly they mean the world to her! Sebelum ada Toshi yang ada dipikiran adalah saya, saya, saya.. Setelah ada Toshi jadi Toshi, Toshi, Toshi! Jangan aneh sih kalau ibu-ibu hobi ngomongin tentang anaknya.

Salah satu hal yang paling saya syukuri setelah melahirkan adalah alhamdulillah punya kesempatan megASIhi Toshi selama lebih dari 2 tahun tanpa ada jarak sedikitpun diantara kita. Itu adalah momen-momen paling dirindukan sekarang. Kadang masih sesegukan kalau inget masa-masa itu. Hiks. Hold your babies close everyone, time is sure fleeting. Sekarang kalau ngeliat foto-foto Toshi waktu bayi bawaannya melow banget.

Masih teringat jelas banget juga, pertama tau positif hamil Toshi saat bulan ramadan, sebelum mudik ke Indonesia, rasanya kaget dan bersyukur banget. Gak sabar ketemu dengan seseorang yang udah bikin jatuh cinta banget bahkan sebelum ketemu. Setelah ketemu kehadirannya membawa berjuta cerita. Mulai dari gemes to the max sampe ngerasain jadi zombie di bulan-bulan pertama jadi new parents. Sekarang senyumnya, ketawanya, celotehnya jadi candu banget!

Alhamdulillah bersyukur banget sampe detik ini masih dikasih kesempatan buat selalu ada disamping a Toshi. Suatu saat kalau a Toshi udah sekolah, ibu pasti kangen banget. Mestipun kadang kalau lagi lelah ibu suka kurang tanggap sama ocehan a Toshi (maaf ya nak) tapi itu yang bakal ibu kangenin di sepanjang sisa hidup ibu nanti. Memang bener masa kecil itu begitu singkat dan gak akan terulang. I love you a Toshi! Semoga a Toshi panjang umur, sehat selalu, jadi anak sholih dan suatu saat saat baca tulisan ini bisa bikin a Toshi senyum! You are the one that keeps me on my toes.

Alhamdulillah niat nulis pengalaman selama jadi ibu, sejak Toshi lahir udah mulai terealisasi. It’s never too late to start.

Let them be little cause they’re only that way for a while

Pengalaman Hamil dan Melahirkan di Jepang (Part 1)

Assalamualaikum…

Bulan Maret ini, dua tahun lalu, petualangan sebagai ibuk-ibuk dimulai. Alhamdulillah bahagia dan bersyukur karena bayik tumbuh sehat, tapi juga sedih karena waktu berlalu begitu cepat dua tahun ini. Masa-masa bahagia melihat anak bayik semakin pintar yang dilengkapi dengan drama enak-emak di perantauan :D.

Setelah dua tahun akhirnya niatan nulis tentang pengalaman hamil sama melahirkan bisa mulai dilaksanakan wkwk. Blog post ini ditujukan buat mengenang masa-masa waktu hamil dan melahirkan anak bayik dan berbagi pengalaman. Mudah-mudahan bisa bermanfaat buat yang menyempatkan baca. Blog ini terinspirasi dari salah satu blog pengalaman melahirkan istrinya mas ashlih (temen suami yang kebetulan pernah ketemu di Tokyo) yang gak sengaja dibaca waktu browsing cari info tentang proses melhirkan di Jepang. Ini postnya PENGALAMAN MELAHIRKAN DI JEPANG yang sangat bermanfaat, bagus dan detail banget. Beda sama blog post saya lebih ke curhat emak-emak wkwk.

Pengalaman hamil dan melahirkan pertama di Jepang gak terbayangkan sebelumnya, sampai saya melihat dua garis di test pack kehamilan beberapa hari sebelum rencana mudik lebaran di Indonesia. Alhamdulillah.

Hal pertama yang saya lakukan adalah ngasih tau suami (pastinya). Hal kedua ngasih tau tetangga terdekat dan nanya tempat kontrol kehamilan yang foreigner friendly karena saya gak bisa bahasa jepang dari dulu sampe detik ini. Terima kasih buat mama eza kesayangan yang udah merekomendasikan Sakai Sensei dan Tokyo Bay Medical Center di Urayasu.

Karena ini merupakan pengalaman pertama saya hamil di perantauan yang saya gak tau bahasanya blass. Saya banyak tanya teman-teman yang udah lebih dulu mengalami proses kehamilan dan melahirkan di Jepang, ditambah browsing informasi lainnya dari mbah gugel. Itu ngebantu banget buat persiapan kedepannya baik secara mental maupun finansial. Berikut info pertama yang saya dapat:

Mitos : Melahirkan di Jepang gratis

Fakta : Proses kontrol kehamilan dan melahirkan di Jepang mendapatkan subsidi pemerintah tapi tidak gratis. Kalo ke toilet iya gratis.

Kembali ke laptop, jadi apa aja yang pertama kali harus dilakukan ketika tau positif hamil Jepang berdasarkan pengalaman yang saya ingat (selain yang lupa) kurang lebih seperti ini:

  1. Bersyukur dan berdoa semoga kehamilan diberi kelancaran sampai melahirkan. 🙂
  2. Cari rumah sakit atau klinik terdekat serta dokter obgyn yang dituju untuk kontrol kehamilan. Untuk yang gak bisa bahasa jepang, bisa cari info dokter yang bisa bahasa inggris atau rumah sakit yanga menyediakan jasa penerjemah. Kebetulan sebelum hamil saya pernah menemani teman saya kontrol kehamilannya ke dokter obgyn yang bisa bahasa inggris, jadi pilihan saya kontrol di dokter yang sama yaitu di Tokyo Bay Medical Center Urayasu, sekitar 10 menit jalan kaki dari Urayasu station. Rumah sakit swasta yang termasuk baru dan pelayanannya juga ramah dan menyenangkan mestipun saya gak bisa bahasa jepang.
  3. Daftar ke Rumah Sakit atau Klinik yang dituju dan menyebutkan mau kontrol ke dokter siapa. Sebelum kontrol pertama kali, kita butuh registrasi dan mengisi formulir di bagian administrasi. Jangan lupa siapkan Resident Card, kartu asuransi dan uang. Karena untuk kontrol pertama butuh biaya registrasi dan kontrol kehamilan yang belum disubsidi pemerintah. Biaya registrasi (dulu saya kurang lebih 5000 yen) plus uang kontrol totalnya hampir 10000 yen (sekitar satu juataan) karena belum registrasi kehamilan ke kecamatan (shiyakusho) jadi belum dapat voucher diskon dari pemerintah. Registrasi kehamilan bisa dilakukan setelah kontrol pertama ke dokter obgyn dan dinyatakan hamil.
  4. Mendaftarkan kehamilan ke kantor kecamatan (shiyakusho). Alhamdulillah di shiyakusho dekat apato kita, ada interpreter volunteer yang bisa eigo, jadi kita sangat terbantu selama proses pendaftaran kehamilan. Pendaftaran kehamilan ini sangat penting karena kita akan diberikan panduan kehamilan, informasi berkaitan selama kehamilan sampai melahirkan termasuk biaya yang perlu disiapkan (yang ternyata mahal), buku catatan untuk ibu (boshitecho) dan buku voucher yang isinya voucher diskon yang bisa digunakan selama proses kontrol kehamilan sampai melahirkan. Selain itu ibu hamil dikasih pregnancy badge buat digantung tas, jadi orang lain tau kalau kita hamil, dan biasanya dikasih tempat duduk di kereta kalau kita berdiri :)Hal yang perlu disiapkan sebelum ke shiyakusho adalah Resident card, kartu asuransi dan bukti hasil kontrol kehamilan dari dokter obgyn. Saat proses registrasi, kita akan ditanya kontrol di rumah sakit atau klinik mana, dan dokter siapa. Selama di shiyakusho kami ditanya kesiapan mental dan finalsial (terutama finansial) karena pihak shiyakusho bilang biaya kehamilan dan melahirkan di Jepang bersar, apakah kita punya persiapan uang untuk itu? (secara waktu itu suami masih belum lulus kuliah jadi ngandelin beasiswa). karena kita bingung awalnya maksud pertanyaannya kemana, jadi kita bilang iya aja udah nyiapin :D. Ternyata pertanyaannya menguji seberasa kesiapan finansial kita untuk biaya proses kehamilan dan melahirkan di Jepang yang gak sedikit. Mestipun ada subsidi pemerintah, tetap ada yang harus kita bayar sendiri.
  5. Persiapan biaya selama proses kehamilandan melahirkan. Ternyata biaya melahirkan di Jepang gak sedikit sekitar 500 ribu yen ( 50-60 juta) baik normal maupun sesar. Terus dapat info dari teman saya yang udah melahirkan di Jepang, ada subsidi dari pemerintah sekitar 420 ribu yen. Sisanya baru bayar sendiri. Termasuk setiap kontrol ada voucher diskon, jadi setiap kontrol pada umumnya biaya setelah diskon berkisar 1000-3000 yen (sekitar 100-400 ribu rupiah). Kecuali ada beberapa kali kontrol (2 atau 3 kali saat trimester awal, trimester 2 dan trimester 3) dimana kita dicek darah dan jaringan untuk mendeteksi kalau ada kemungkinan penyakit atau kelainan, sekitar 10000-15000 yen (1 juta sampai 1,5 juta rupiah).
  6. Kontrol kehamilan berkala sampai melhirkan. Di trimester awal (lupa sampai minggu keberapa) kontrol kehamilan dilakukan 1 bulan sekali, kemudian di trimester selanjutnya jadi 2 minggu sekali, dan saat mendekati proses kelahiran jadi seminggu sekali. (maaf saya lupa detailnya minggu keberapa karena udah lama ~.~). Selama proses kontrol kehamilan ada kalanya suami gak bisa nemenin karena gak bisa izin (aktivitas yang gak bisa ditinggal di kampus), jadi kadang saya kontrol sendiri ke dokter naik bis atau kereta. Pada umumnya ibu-ibu hamil di jepang malah hampir semua kontrol sendiri dan yang ditemenin suami atau keluarga jarang banget, gak kaya di Indonesia biasa ada yang nemenin. Jadi mamak-mamak di Jepang memang kudu setrong right from start. hehe
  7. Booking tempat untuk melahirkan. Setelah beberapa kali kontrol biasanya nanti ditanyain rencana melahirkan dimana? Apakah di sini atau di Indonesia?. Kemudian kalau berencana melahirkan di Jepang, harus booking tempat untuk melahirkan. Beda sama di Indonesia yang bisa datang aja lansung daftar sebelum melahirkan. Kalau disini harus registrasi dan booking jauh-jauh hari. Biaya booking ini berbeda-beda bergantung rumah sakit atau kliniknya. Berdasarkan pengalaman saya waktu lahiran, biaya booking di Tokyo Bay Medical Center tahun 2017 yaitu 100 ribu yen (kurang lebih 13 juta rupiah).

(bersambung)