Showa Kinen Koen : Taman Terluas dan Terindah di Area Tokyo

Selama beberapa tahun tinggal di Jepang, salah satu hal yang paling berkesan yaitu keindahan tamannya di berbagai musim. Masyaa Allah ini yang bikin betah keluyuran terus 😂. Tapi karena situasi belum kondusif padahal udah kangen banget traveling jadi traveling virtual lewat foto di galeri HP dulu ajaa 😄

Showa Kinen Park, Tachikawa, Tokyo.

Showa Kinen Koen atau Showa Kinen Park ini salah satu taman terindah menurut saya sih di area Tokyo. Jaraknya gak terlalu jauh dari pusat kota Tokyo yaitu sekitar 40 sampai 50 menit menggunakan kereta dari Tokyo station. Kalau temen-temen lagi wisata di daerah Tokyo di musim semi (Maret-April) atau gugur (November-Desember), taman ini harus banget masuk itinerary yaa. Tempat yang menyenangkan juga buat menghilangkan penat dari ramainya pusat kota Tokyo.

Showa Kinen Park, Tachikawa, Tokyo.

Keindahannya Showa Kinen Park gak kalah dari taman-taman terkenal yang ada di pusat kota tokyo kaya Shinjuku Gyoen dan Yoyogi Koen. Kalau menurut saya sih malah jauh lebih indah dan seru, soalnya lebih banyak fasilitas yang bisa dinikmati buat wisata bareng keluarga terutama anak-anak. Anak senang, ibu senang deh hehe.

Kodomonomori, Showa Kinen Park.

Showa Kinen Park (昭和記念公園-Showa Memorial Park) yang berlokasi di Kota Tachikawa (sebelah barat Tokyo) ini merupakan taman paling luas di area Tokyo (180 hektar atau sekitar 31 kalinya Tokyo Dome). Showa Kinen Park memiliki beragam area, seperti taman Jepang, taman bunga musiman, area bermain anak (playground), hutan anak (kodomonomori/children’s forest), picnic area dan barbeque area, danau dengan pedal boat, kolam renang di musim panas dan lainnya.

Picnic Area at Showa Kinen Park, Tachikawa, Tokyo.

Showa Kinen Park : Indah di Setiap Musim

Showa Kinen Park selalu memiliki daya tarik tersendiri sepanjang tahun, yang gak akan bikin kita bosen, mestipun dikunjungin berkali-kali. Bunga sakura, bunga tulip, bunga kosmos, bunga matahari, daun-daun musim gugur dan lainnya. Setiap musim bergantian mewarnai Showa Kinen Park. 😍

Showa Kinen Park di Musim Semi

Bunga sakura adalah salah satu hal yang bikin saya bermimpi bisa ke Jepang dulu. Bunga ini kehadirannya singkat banget (sekitar 2-3 minggu setiap tahunnya), tapi paling diburu, ditunggu dan membawa keajaiban setiap musim semi tiba.

Showa Kinen Park ini merupakan salah satu taman terindah di sekitar Tokyo untuk menikmati keindahan bunga sakura. Mulai dari pertengahan Februari, jenis Kawazu Sakura (jenis sakura yang berasal dari Kawazu, yang sering disebut juga sebagai early blooming cherry blossom) mulai mekar. Sedangkan sakura Somei Yoshino (jenis yang paling umum ditemui) mulai mekar akhir Maret sampai dengan awal April. Selanjutnya ada bunga tulip yang mulai mekar di minggu kedua April di Showa Kinen Park dan area Tokyo lainnya.

Musim Semi tahun lalu, kita berkunjung ke Showa Kinen Park di tanggal 13 April 2019, pas banget bunga sakura masih bermekaran bareng tulip. MasyaaAllah, pemandangannya cantik banget gak ada obatnya .

Showa Kinen park di Musim Gugur

Musim gugur termasuk waktu favorit kita buat menikmati keindahan Showa Kinen park. Di musim gugur daun pohon ginko berubah menjadi warna kuning menyala, sedangkan daun pohon mapple menjadi warna merah menyala. Showa Kinen Park ini bikin jatuh cinta sejak pertama kali waktu saya berkunjung tahun 2015, di musim gugur. Sejak itu kita gak pernah melewatkan musim gugur di Jepang tanpa berkunjung ke Showa Kinen Park.

Ginko tunnel di Showa Kinen Tachikawa ini ada di area dekat gerbang Tachikawa. Magical banget, pas semua daunnya berubah kuning menyala dan berjatuhan, berasa jalan diatas karpet ajaib.

Naik Pedal Boat di Showa Kinen Koen

Salah satu kegiatan seru bareng keluarga yang bisa dicoba adalah naik pedal boat di danau Showa Kinen Park yang dikelilingi pemandangan indah banget, terutama di musim gugur. Harga sewa per 30 menit yaitu 700 yen.

Children’s Forest (Kodomonomori)

Kodomonomaori (Children’s Forest) ini salah satu area yang paling nyenengin buat anak-anak di Showa Kinen Park karena banyak permainan tersedia disini. Saat ada disini, bisa melupakan sejenak hiruk pikuk kota dan menikmati keindahan alam di hutan anak-anak. 😄

Salah satu permainan yang seru banget buat anak-anak adalah perosotan yang panjang banget, jungle gym dan permainan seru lainnya di Kodomonomori yang bikin betah anak dan susah diajak pulang dong. Wkwk.

Long slide at Kodomonomori, Showa Kinen Park, Tokyo.

Playground

Selain Kodomonomori, ada juga playground anak di dekat seasonal flower garden. Disini banyak banget juga fasilitas yang bisa dimainin, mulai dari jungle gym, sand pit sampai trampoline.

Japanese Garden

Taman Jepang ini merupakan salah satu spot yang wajib banget dikunjungin, terutama di musim gugur. Banyak banget pohon maple yang berwarna warni dengan pemandangan khas taman jepang banget.

Mesin Tiket

Saat tiba di gerbang Nishi-Tachikawa, kita bisa langsung membeli tiket lewat mesin tiket yang udah disediakan. Di gerbang masuk juga ada penjualan tiket manual kalau ada kesulitan.

Baby Room di Gerbang Masuk Nishi-Tachikawa

Pertama kali berkunjung ke Showa Kinen park setelah ada Toshi, waktu umurnya 7 bulan. Hal pertama yang saya cari adalah nursing room. Hehe. Kebanyakan tempat wisata di daerah Tokyo menyediakan baby room dan juga nursing room. Tempatnya juga bersih dan rapi. Jadi jalan-jalan bareng bayi jadi lebih menyenangkan deh. 😍

Showa Kinen Park : Akses Dan Biaya Masuk

Jarak tempuh dari pusat kota Tokyo ke Tachikawa sekitar 30 menit dengan menggunakan kereta lokal. Stasiun terdekat dengan Showa Kinen Park yaitu stasiun Nishi-Tachikawa (JR Line). Jarak tempuh dari Nishi-Tachikawa ke gerbang masuk Nishi-Tachikawa cuma sekitar 2 menit, karena langsung di depannya. Selain itu Showa Kinen Koen juga bisa diakses dari stasiun Tachikawa dan jalan sekitar 10 menit sampai ke gerbang masuk Tachikawa gate.

Harga tiket masuknya relatif murah, buat taman seluas dan seindah ini, yaitu 450 yen (gratis untuk anak dibawah umur 15 tahun).

Waktu buka Showa Kinen Park ini berubah setiap musim. Untuk jadwal paling update silahkan kunjungi website resmi Showa Kinen Park.

1 Maret – 31 Oktober : 9.30 am – 17.00 pm

1 November – Akhir Februari : 9.30 am – 16.30 pm

1 April – 30 September, sabtu, minggu dan hari libur : 9.30 am – 18.00 pm

Pada saat musim panas :

16 Juli sampai Hari Minggu ketiga Agustus : 9.30 am – 19.00 pm Ketika kolam renang dibuka

Senin minggu ketiga Agustus sampai 4 September : 9.30 am – 18.30 pm ketika kolam renang dibuka

Website resmi Showa Kinen Park : https://www.showakinen-koen.jp/guide-english/schedule-english/

Baby you’re the sweetest

Tiap hari dihujani sama ungkapan kasih sayang dari seorang anak dengan tulus itu adalah kebahagiaan yang hakiki.. Selalu berhasil bikin senyum dan ketawa ibu dan ayahnya dikala apapun.. Alhamdulillah🤗

A toshi : a toshi sayang banget sama ibu dan ayaah

I & A : ibu sama ayah lebih sayang lagi sama a toshi

A toshi : tapi a toshi terlalu sayang banget sama ibu dan ayah

I & A : ibu sama ayah juga lebih terlalu sayang banget sama a toshi

A toshi : tapi a toshi yang lebih terlalu sayang ibu dan ayah

Terus aja gituu, tiap saat, tiap hari.. Semoga terus jadi penyejuk hati ibu dan ayah yaa a Toshi💕

Ibu dan ayah bersyukur banget punya a Toshi dalam hidup kita, a Toshi adalah amanah dan anugrah paling berharga dari Allah di hidup ibu dan ayah.. makasih a Toshi selalu ngajarin ibu dan ayah kasih sayang tanpa syarat, kasih sayang yang tulus banget tanpa mengharap apapun.. semoga ibu dan ayah bisa terus jadi orang tua yang lebih baik buat a Toshi💕

Jadi Ibu di Rantau (Motherhood Journey Part 1)

Time flies.

Kadang masih gak percaya udah 3 tahun jadi seorang ibu. Dan sejak itu gak pernah sendirian, 24/7 selalu ada yang nempel kayak perangko yaitu malaikat kecil yang udah ngajarin arti cinta dan hidup yang sebenernya. Sejak itu di rumah gak pernah sepi lagi, selalu penuh cinta, tawa dan kadang tangisan. Rame deh.

Having children just puts the whole world into perspective. Everything else just disappears.

Sejak jadi ibu, prioritas kehidupan jadi berubah 180 derajat. Hampir setiap ibu mungkin merasakan hal yang sama. Entah yang memilih jadi “stay at home mom” ataupun “working mom” sama-sama punya prioritas utama yang baru yaitu anak. Honestly, I never thought I’d be a “stay at home mom”, I don’t even really like that term. But now I can’t imagine myself not being it.

Sebenernya saya kurang sreg sama kedua istilah tadi “stay at home mom” dan “working mom”. Seolah-olah ada yang diem terus di rumah dan ada yang kerja terus di luar rumah. Selain itu ada juga istilah “full time mom“, emang ada “part time mom“?. Mom is just a mom. Mestipun ada perbedaan rutinitas.

Buat saya, gak ada jawaban yang tepat, antara yang mana lebih baik, jadi ibu yang bekerja di rumah aja atau ibu yang bekerja di luar rumah juga karena itu kembali ke pilihan individu masing-masing. Buat saya, yang terpenting kita harus bahagia dulu, supaya bisa jadi ibu yang bahagia dan membuat anaknya juga bahagia. Dan kebahagiaan setiap orang itu ukurannya berbeda-beda.

Sedikit cerita awal kisah kita merantau ke Jepang, sebenernya dulu saya yang pengen banget bisa tinggal di Jepang lagi, setelah dapet kesempatan short stay di Jepang selama 3 bulan. Sejak itu saya nyemangatin suami buat daftar beasiswa biar bisa lanjut kuliah di Jepang barengan. Sebenernya saat itu suami udah CPNS dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung tapi saat itu ada tragedi SK CPNS yang bermasalah dan ternyata hikmahnya kita bisa berangkat ke Jepang.

Singkat cerita, saya berhenti kerja dan ikut suami ke Jepang. Sebelum hamil Toshi saya sempet daftar beasiswa MEXT U to U buat ngambil PhD program di Waseda University. Kebetulan dosen pembimbing saya selalu ngedukung banget saya buat ngambil PhD dan nyemangatin saya buat daftar. Sebenernya setelah lulus kuliah saya, sempet dapet lab buat lanjut PhD, tapi sayang saat itu belum rezeki dapet beasiswanya. Jadi waktu itu saya berpikir ini waktunya buat melanjutkan perjuangan! Akhirnya saya lolos tahap seleksi beasiswa dan bisa lanjut ke tahap pendaftaran PhD programnya. Seneng banget udah ngebayangin bisa ngambil PhD di Universitas yang sama bareng suami.

Email yang bersejarah banget buat saya, masih berharap ada kesempatan lain.

Kesalahan saya waktu itu adalah daftar beasiswa dulu, tapi belum dapet profesor yang mau nampung saya di labnya (jangan ditiru). Akhirnya saat deadline pengumpulan dokumen saya belum dapet lab yang sesuai. Sedih banget sih waktu itu. But Allah always has a better plan for me. Dan gak lama setelah itu Toshi hadir di hidup saya. Akhirnya perjuangan mencari beasiswa dan lanjut kuliah diputuskan ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Tapi bukan berarti saya menyerah karena adanya Toshi, cuma proritasnya aja yang bergeser. Sampe sekarang niat buat belajar dan kerja lagi masih ada, So I’m not quitting, I’m just taking a break from my career to raise my son. 😊

Dulu saya pernah punya cita-cita jadi wanita karir. But here I am a “stay at home momand proud. Sejak ada amanah terbesar dari Allah di perut saya, yang udah ditunggu kehadirannya selama hampir 2 tahun, pemikiran saya berubah. Waktu itu saya berpikir, kerjaan dan pendidikan bisa ditunda, tapi masa kecil anak gak bisa. Saya bisa kembali kerja atau sekolah lagi (mestipun mungkin di bidang yang berbeda) kalau misalnya saya nyesel jadi “stay at home mom” doang. Tapi saya gak bisa mengulang kembali masa-masa awal pertumbuhan Toshi yang udah lewat, kalau saya nyesel karena sekolah atau kerja. Saya sendiri dibesarkan oleh seorang ibu yang bekerja di luar rumah. Tapi memang pada saat itu ibu saya gak mempunyai pilihan lain selain bekerja.

Memang enggak semua orang bisa jadi ibu yang bekerja di rumah aja dan gak semua orang juga bisa jadi ibu yang bekerja di luar rumah juga. Sebagian orang bisa berkembang dan bertumbuh saat dia bisa berkarir sesuai bidang atau pendidikannya di luar rumah. Sebagian lainnya bisa lebih berkembang dan bertumbuh saat dia fokus untuk keluarga di rumah aja. Saya tipe orang yang lebih suka ngerjain tugas sendiri dibanding nyuruh orang lain, apalagi buat hal yang saya anggap penting karena termasuk susah percaya sama orang lain. Buat ngebayangin harus jauh sebentar dari anak aja saya gak sanggup. Pasti berat banget ya perjuangan setiap ibu yang harus berangkat kerja di luar ninggalin anaknya setiap hari.

Sejak ada Toshi, saya juga menyadari sesuatu, saya termasuk tipe orang yang perfectionist soal anak (kalau soal yang lainnya sih enggak). Semuanya yang berkaitan sama Toshi bener-bener saya kerjain sendiri termasuk bersihin alat makannya harus saya sendiri (kalau ayahnya udah cuciin, saya cuci lagi wkwk). Sejak Toshi mulai makan, semua masakannya saya masak sendiri juga (mestipun gak jago dan suka masak). Kebetulan Toshi emang gak suka makanan instan waktu bayi. Jadi serepot apapun saya selalu bawa bekel makan buat Toshi kalau ke luar rumah. Tapi seiring berjalannya waktu saya mulai berubah gak mau terlalu perfectionist lagi. Memang gak mudah menjalani peran baru sebagai seorang ibu di tempat yang jauh dari sanak keluarga dan beda budaya. Tapi sisi positifnya saya bener-bener memilih apa yang saya anggap terbaik buat saya dan keluarga dan belajar sendiri dari kesalahan-kesalahan itu. Kalau suami sih tipikal orang yang akan selalu mendukung istrinya selama itu baik dan bikin istrinya happy. Happy wife equals happy life, right?.

Jadi sebagai ibu baru buat saya wajar punya prinsip dan pilihan masing-masing. Wajar melakukan kesalahan juga. Karena jadi orang tua itu memang proses belajar seumur hidup. Setiap ibu pasti punya alasan dari pilihannya masing-masing.

Awalnya saya gak mahir ngerjain pekerjaan domestik (sampe sekarang juga sih), tapi sejak merantau mau gak mau semua kerjaan rumah saya kerjain sendiri, kecuali cuci piring dan masak nasi bagian suami 🎉. Tapi ya semuanya juga berawal dari gak bisa bukan? asal mau usaha pasti bisa, mestipun gak harus sempurna paripurna. Pernah bosen gak? Sering banget sampe ngerasa udah gak sanggup lagi. Kalau udah ngerasa gitu sebenernya biasanya cuma butuh waktu sendiri aja sih, me time!. Setelah itu, siap jadi super ibu yang menyenangkan lagi. 🎉😂 Salah satu me time saya adalah nulis blog ini. Selain itu juga nulis bisa jadi terapi, buat menyalurkan energi dan pikiran negatif.

Pernah kepikiran buat kerja atau sekolah lagi? All the time terutama kalau lagi ada di titik jenuh. Sejak Toshi umur 2 tahun sebenernya saya udah sering nanya sama Toshi, “kalau ibu mau kerja atau sekolah lagi boleh gak?” jawabannya “a Toshi gak mau ibu kerja, a Toshi mau sama ibu terus karena a Toshi sayang banget sama ibu”. Pinter banget kan ya bikin ibunya terluluh. Jadi ujung-ujungnya saya gak tega dan inget kalau waktu berlalu terlalu cepet. Sebentar lagi juga Toshi sekolah dan saya yang bakal kangen dan kehilangan masa-masa kita gak pernah terpisahkan.

Enjoy the little things in life because one day you’ll look back and realize they were the big things.

Produktif Beda Sama Gila Kerja

I can relate to this video, akhirnya unek-unek selama ini diwakilin sama Gita Savitri. Kalau denger cerita temen yang kuliah atau kerja di Eropa dengan jam kerja 9-5, kadang ngiri.

Sedikit curhat pengalaman pribadi, selama suami ngejalanin PhD program di Jepang yang berasa banget “hustle”nya. Hampir setiap hari pulang tengah malem, kadang sampe kereta terakhir. Pulang jam 9/10 malem tuh kaya keajaiban. Berangkatnya jam 7 pagi. Di luar style kerjanya yang “beda” dari negara lainnya sih, selama ini banyak banget ilmu dan hal baik yang didapat dan bisa dicontoh dari negri sakura ini.

Setelah lulus PhD dan ada Toshi, suami lanjut kerja di lab yang sama tapi pulangnya kali ini lebih awal, sekitar jam 7/8 malem. Kadang malah diminta pulang lebih cepet lagi sama istrinya. Biar bisa cepet gantian shift ngajak main Toshi di rumah. Hehe. Karena sebenernya sih working hoursnya 9-5. Selebihnya? Suka rela. Kebanyakan temen kantornya malah lebih ekstrim lagi sabtu minggu pun banyak yang masuk. Kalau suami sih big NO.

Sempet beberapa bulan ninggalin suami mudik ke Indonesia dan suami balik ke budaya “hustle” karena terlalu banyak yang harus dikerjain. Sampe suatu saat kesehatannya sempet drop. Sampe dokter nyuruh gak boleh terlalu capek dan kalau udah ngerasa lelah, harus langsung istirahat dan gak usah kerja. Sejak itu suami berangkat siang dan pulang sore. Malah kadang cuti di hari biasa. Tapi hasil kerjanya? Masih tetep bisa produktif seperti sebelumnya.

Produktif itu gak selalu berarti harus super sibuk dan gila kerja. Sedikit waktu buat keluarga dan mengesampingkan kesehatan, bukannya bikin sukses, malah lama-lama bikin kehilangan tujuan dan makna kehidupan yang sebenarnya. Karena di luar pekerjaan, ada hal-hal lain juga yang jauh lebih penting.

Kalau buat ibu-ibu kaya saya, produktif itu bisa main sama anak, baca buku, belajar sama ngerjain hal baru, beres-beres, masak makanan yang bergizi, bisa ibadah, ngobrol bareng suami itu udah produktif banget. 🎉 Gak semuanya juga sih dalam satu waktu.

Buat sebagian orang yang gak beragama mungkin pencapaian karir itu adalah segalanya. Tapi buat kita, hidup bukan cuma untuk kerja. Tapi kerja cuma sebagai ikhtiar untuk menjemput rezeki dan mengamalkan ilmu. Jangan sampai kita mengorbankan hal-hal yang lebih penting demi kerjaan.

At the end of the day, family is all that matters.